0

Tips untuk Mahasiswa Baru (MABA) di Yogyakarta





Haloo anak MABA Jogja, ciieeeee mahasiswa baru ciiiee..

Yogyakarta memang merupakan salah satu kota yang memiliki banyak perguruan tinggi maupun swasta yang cukup terkenal. Tak salah hingga akhirnya Yogyakarta mendapatkan julukan sebagai kota pelajar. Bulan-bulan Juli, Agustus dan September bisa dikatakan sebagai bulan-bulan kedatangan Mahasiswa Baru (MABA) di kota-kota tempat mereka akan melanjutkan jenjang pendidikan tinggi. Rutinitas awal biasanya adalah mencari kos-kosan dan belanja barang-barang kebutuhan pribadi. 

Untuk Maba di Yogyakarta, saya akan coba share beberapa tips yang gak terlalu serius tapi juga bisa diperhitungkan *piye jal? :p
Kebetulan pertengahan tahun 2013 lalu saya pun merasakan atmosfir menjadi Maba di Yogyakarta, namun tidak terlalu merasakan hiruk pikuk adaptasi dan mempersiapkan banyak hal karena awal tahun 2013 sudah mulai menetap di Yogyakarta untuk bekerja. 

Tempat

Kalau boleh saya ringkas, ada beberapa tempat strategis yang harus diketahui Maba Yogyakarta (selain mall lho ya).

1. Mirota Campus : Ini adalah semacam swalayan yang menjadi favorit mahasiswa entah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, pakaian,  ataupun alat-alat tulis. Lokasinya pun tersebar di beberapa titik sehingga memudahkan Maba yang berdomisi di berbagai tempat berbeda. Harganya pun terbilang lebih murah jika dibandingkan dengan swalayan atau minimarket lainnya. Patut kalian coba berbelanja di sini.
2. Kopma UGM : untuk Maba di UGM, harus sekali pernah berkunjung di Kopma UGM yang ada di jalan kaliurang kompleks kampus. Lokasinya tepat di pinggir jalan, jadi sangat strategis. Terlebih untuk maba yang ingin memborong pernik-pernik atau souvenir khas UGM seperti gantungan kunci, jaket, jas, topi, kaos, jam, stiker, hingga mug lucu. Biar keliatan kan kalau anak UGM. Hahaha.. Biasanya kalau pulang ke kota asal juga hobi memberikan cindera mata pada orang rumah berupa souvenir khas UGM seperti ini kan? jadi cuusss ke KOPMA UGM.
3. PROGO : merupakan swalayan khusus isi alat-alat rumah tangga yang komplet sekali. Jangan sampai bingung kalau ke sini ya, mau beli penggorengan? panci? kompor? kipas angin? semua banyak sekali jenis dan macamnya.
4. Jogja tronik : sejenis mall khusus gadget. Mungkin ada yang mau beli handphone dan laptop baru ataupun memperbaiki handphone dan laptop yang rusak, bisa coba ke JT. Counternya banyak... jadi tinggal pilih.
5. (referensi akan saya tambah kapan-kapan kalau ingat dan kalau ada kesempatan) :p

Kuliner

Selain suasana baru, masalah lain yang sering dikeluhkan adalah perihal citarasa makanan Jogja yang memang cenderung manis, bahkan sambal pun banyak yang manis. Terlebih untuk Maba asal Jawatimur atau kota-kota lain yang lidahnya sudah terbiasa dengan masakan gurih dan pedas, mungkin kalian butuh adaptasi lebih *puk-puk*
Kalau di Malang, berkunjung ke warung-warung lalapan tenda pinggir jalan yang meskipun sebelumnya kita belum tau track recordnya, kemungkinan besar rasanya tetap tidak akan mengecewakan (dalam artian sambalnya ya rasa sambal, gurihnya ya gurih beneran). Tapi situasi itu akan berbeda saat di Yogyakarta. Saya dan teman-teman yang terbiasa dengan suguhan gurih dan pedas, sering dikecewakan saat random mengunjungi warung lalapan tenda pinggir jalan. Keluhannya kebanyakan sama: Sambalnya manis dan tidak fresh. Dari situ akhirnya saya berinisiatif tanya2 dulu pada teman yang sudah lama di jogja, mana warung makan yang sambalnya recommended, setidaknya beneran pedas-lah.. Kemudian saya juga rajin googling, dan akhirnya muncul beberapa nama tempat makan yang saya setujui memang paling aman dikunjungi untuk pecinta sambal.

1. SS (Spesial Sambal) : warung makan yang sudah banyak tersebar di kota-kota. Terlebih di Jogja, tenang saja hampir setiap jalan besar sudah berdiri SS.
2. Bebek goreng Pak Slamet : ini juga oke banget. Belum pernah dikecewakan dengan sambal bawang khas Pak Slamet. 
3. Nasi Uduk Palagan : menu utamanya tentu nasi uduk. Tapi jangan salah, banyak sambel yang beneran sambel di sini. Silahkan dicoba.
4. (referensi akan saya tambah kapan-kapan kalau ingat dan kalau ada kesempatan) :p

untuk yang ingin menikmati santapan gudeg khas jogja yang juga tidak terlalu manis, bisa mencoba gudeg kulon Tugu yang buka malam hari. Lokasinya tidak jauh dari Tugu, sudah ada spanduk besarnya yang memudahkan untuk dikenali. Kalau makan di sini lesehan di depan toko lho yaa, yang ingin tempat mewah dan eksklusif jangan ke sini. Tapi kalau yang mau menikmati pemandangan jalan sudirman dan Tugu di malam hari, juga rasa gudeg yang maknyus, segerah melipir ke sini.

Tips lainnya adalah, untuk Maba putri yang mungkin hobi masak, dan sekiranya tempat kosnya memungkinkan untuk memasak, maka memasaklah. Kalau makanan di Jogja tidak banyak yang mampu memenuhi selera makanmu, maka masaklah sendiri. Saya termasuk yang lebih seneng masak sendiri kalau lagi pengen masakan2 rumahan. Selain lebih hemat, seneng aja bisa "rekreasi ke dapur" sambil mengasah kesiapan nantinya jadi istri dan ibu. Ihiii...

Jalan-jalan

Selanjutnya kita bahas tempat jalan-jalan di Yogyakarta. Fiuuh.. tentunya sudah pada tau kalau Jogja merupakan salah satu destinasi tempat wisata tahunan dari berbagai penjuru. Jadi jangan kaget nantinya kalau musim liburan, jalanan sentral Jogja bakalan rame, macet, dan ulala. Tempat rekreasi semacam Parangtritis, jalan Malioboro, Keraton, Alun-alun Utara dan Selatan, Masjid Gede, mungkin sudah sangat familiar ya. Jadi saya rekomendasi yang lain saja.

1. Deretan pantai di Gunung Kidul : ada buanyaaaakkkk pantai yang bisa dikunjungi di kawasan gunung kidul. Keindahannya tidak perlu kalian ragukan lagi. 
2. Kebun buah Mangunan dan hutan Pinus : Lokasinya satu dengan yang lain tidak terlalu jauh. Kalau ke kebun buah Mangunan, dari yang saya baca memang paling bagus waktu sunrise, tapi saya waktu ke sana sore hari, itupun gak kalah. Apalagi musim kemarau, pohon2 yang kecoklatan dan daun yang meranggas bikin suasana seperti ala-ala di Jepang.
3. Kota Gede: untuk yang ingin mencari perhiasan perak, paladium ataupun emas, kota Gede bisa dijadikan referensi. Di sini memang sentra pengrajin perak. Selain itu, banyak sudut kota yang terlihat "tua" namun asik untuk dijadikan tempat foto.
4. (referensi akan saya tambah kapan-kapan kalau ingat dan kalau ada kesempatan) :p


--------------------------------------------------------------------------

Teknologi pun sudah makin canggih ya, saya rasa GoogleMaps dan sosial media sangat bisa membantu mengenal Jogja lebih baik. Ada puluhan akun yang rajin mengupas kuliner Jogja di Instagram, begitupun blog-blog kuliner lainnya, apalagi lokasi-lokasi rekreasi. Selagi memungkinkan, rajin-rajinlah mengakses informasi tersebut, biar makin asik jadi penghuni baru Jogja.

Terakhir, selamat datang para Mahasiswa Baru dari segala institusi pendidikan di Yogyakarta. Semoga betah, dan saya yakin kebanyakan akan betah. Dengan segala lebih dan kurangnya, Yogyakarta memang kota berhati nyaman. Sudah saya buktikan! ^^



2

Pembeli adalah Raja??


 


Sa..te.. S-a-t-e.
Suara tukang sate yang menjajakan dagangan sate-nya dengan berteriak sa-te.. sa-te.. rupanya pun tidak kutemui di Jogja. Mungkin benar, adegan itu cuma di sinetron dan di film hantu yang akhirnya gangguin si tukang sate di tengah malam juga di tengah asap berlebihan :p

Jadi ceritanya begini. Ada sebuah warung sate nggak jauh dari kosku yang rame pengunjung. Di siang hari, warung sate ini sudah buka. Berbeda dengan kebanyakan penjual sate yang memulai berdagang sore menjelang petang. Okelah, aku mampir. Aku sengaja minta dibungkus. Emmm, kurang nyaman mau makan disana, soalnya sedang banyak bapak-bapak dan mas-mas, gak ada pembeli ceweknya kecuali aku. Ahahahaha. Oke, lanjut. 
 "Ibuk, es jeruknya satu juga dibungkus yaa.."
"gak bisa mbak, yang buat es jeruk masih keluar"
Oke. Aku masih belum gimana-gimana saat itu. Pikirku, mungkin memang lagi repot ya.. Meskipun waktu naik motor dan ngelirik ke arah ibunya, beliau sedang duduk-duduk sambil kipas-kipas. Sementara satu pria mengipasi sate, dan pria lain membungkus pesanan. 

Lain hari, aku kembali beli kesana. Kali ini pun minta dibungkus, tapi aku meminta tolong untuk bumbu dan satenya dipisah. Pikirku, karena untuk makan sahur jadinya lebih aman dipisah bumbunya. 
"Ibu, minta tolong dipisah sate dan bumbunya yaa.."
"Waduh repot mbak, beli di tempat lain saja"
JEDAARRR!!!
Sumpah deh, baru kali ini aku disuruh pergi sama pedagang makanan dengan alasan pesananku (((repot)))
Saat itu, aku nggak bisa menyembunyikan ekspresi kaget. Apalagi setelah mengatakan itu, si Ibu langsung duduk lagi seolah enggan melayaniku. OH MY. Kemudian, pria yang bagian mengipasi sate bertanya, "kenapa?"
" Ini lho mbaknya pesanannya repot. Rewel."
Okelah. Aku pun dengan muka kecut beralih dari tempat makan itu dan mencari penjual sate yang lain.
Sepanjang perjalanan mengendarai motor aku masih ngomong sama diri sendiri, "apa aku beneran rewel?" hmmm, aku bahkan tidak memesan sate seperti yang biasanya temanku lakukan, "pesan sate dibakar yang mateng banget, bungkus, sambel dipisah, bumbu dipisah, kecapnya dikit aja" 
Aku nggak kebayang, apa jadinya kalau temanku itu pesan sate disitu -___-

Pernah dengar pepatah bilang Maybe God wants us to meet a few wrong people before meeting the right one ? Nah, sepertinya itu pula yang terjadi dalam kisah per-sate-anku di Jogja. #tsaah

Akibat mengalami penolakan penjual sate, aku pun terdampar di sebuah lapak penjual sate yang lain. Tempatnya memang kecil, tidak sebesar penjual sate pertama. Penjual ini pun orang madura. Bagaimana aku tahu? Ya gimana ya. Lima tahunan aku satu kos dan berteman baik dengan orang asli madura. Bahkan sempat diajari beberapa kosa kata madura :D
Penjual sate madura ini terdiri dari 2 pria paruh baya dan 1 ibu lumayan sepuh dengan 1 ibu lainnya pun paruh baya. Aku memesan sate dengan permintaan yang sama dengan sebelumnya. 
"Sambelnya nggak dipisah sekalian, mbak?"
"Ndak usah, bu. Jadi satu saja" jawabku.
Kalian tau? agak lebay ku katakan hatiku adem banget mendengar si Ibu bertanya seperti itu. 

Semenjak kejadian itu, aku sepertinya belum pernah membeli sate ke tempat pertama lagi. Aku menjadi sering mampir ke penjual kedua. Wajahku pun sepertinya sudah familiar untuk mereka. Saat baru memarkir motor saja aku sudah dihadiahi senyuman. Adeemmm meen.
Bapak-bapaknya suka jail sih. Biasanya nggodain dengan bilang, "lontongnya habis lho, ya"
Lalu aku segera bertanya manja pada ibu-ibu penjualnya, "Beneran habis, bu?"
Dengan isyarat lucu ibu-ibu mengatakan masih ada. Hehehee... 
Seperti tadi sore. Antrian pembeli cukup banyak. Aku segera duduk mendekat ke bapak-bapak dan ibu-ibu penjual. Kali ini, si bapak nggak bohong. Lontong memang habis dipesan. Sambil sibuk membungkus pesanan, si Ibu bilang kalau aku mau, akan diberikan sedikit lontong. So sweeeetttt.
Belum selesai sampai disitu, aku yang baru datang, dan seharusnya masih mengantri lama, ternyata didahulukan. Bhahahahahaha *ketawa setan*
"tk duluin. Sini, wis buruan pulang" kata si Ibu diikuti senyum bapak-bapak. Uwuwuwuwuwuw :*

Untukku yang terpisah jauh dari rumah, perhatian-perhatian yang sepertinya sepele semacam ini justru membuat hati ademmmm. Sapaan dari tukang parkir mini market deket kos misalnya, pak parkir yang sering menanyakan "kapan muleh bojonegoro, mbak plat S?" atau ibu penjaga laundry yang sering menanyakan aku kemana saja kalau sudah jarang kelihatan lewat. Haah, adeem :')
 
 Jadi, bener kan? Kita nggak akan tahu betapa berharganya bertemu orang yang tepat selama belum pernah bertemu orang salah. Semoga durasi bertahan kita tidak berlama-lama dengan orang yang tidak tepat :')




 
5

Semesta Bisa Menghukumku karena Terlalu Setia Menunggumu



Cuplikan.
Senja tidak lupa jalan pulang. 
"Hai.." sapanya di depan pintu rumahku sore kemarin. Aku tertegun. Selamanya-kah kini kedatangannya? Tidakkah ia akan pergi lagi seperti sebelum-sebelumnya? Untuk laki-laki yang gemar pergi seketika sepertinya, aku tak punya keberanian memintanya tetap tinggal. Tapi, ada sesuatu yang terasa janggal. Sapaan khasnya sore itu membuatku tersadar, mungkin aku telah menemukan tangan yang kembali ingin kugenggam, namun tidak lagi untuk dilepaskan.


Ada sedikit gundah merasuki diri
saat hujan mulai merintik
ada satu inginku tuk jumpa denganmu
oleh hatiku dilanda rindu

ada sedikit ragu bersitkan diriku
kala senja beranjak jua
namun serpihan rindu
tiada kan menghalangi merintangi langkahku
tiada kan mungkin senjakan hasrat diri

pastikan kasih pastikan kini pastikanlah dirimu
hanya untukmu segala cintaku padukan angan kasih
gelora cinta lintaskan rindu nadakanlah asmara
hanya padamu untukmu ku hadir dalam cinta

pastikan kasih pastikan kini pastikanlah dirimu
hanya untukmu segala cintaku padukan angan kasih
gelora cinta lintaskan rindu nadakanlah asmara
hanya padamu untukmu ku hadir dalam cinta

pastikan kasih (pastikan) pastikan kini (oh kasih) pastikanlah dirimu
hanya untukmu (hanyalah) segala cintaku (untukmu) padukan angan kasih
gelora cinta lintaskan rindu nadakanlah asmara
hanya padamu untukmu ku hadir dalam cinta

pastikan kasih pastikan kini pastikanlah dirimu
hanya untukmu segala cintaku padukan angan kasih
gelora cinta lintaskan rindu nadakanlah asmara
hanya padamu untukmu ku hadir dalam cinta
ku hadir dalam cinta, ku hadir dalam cinta
(Kahitna - Pastikan)

Untuk Senja, jika memang aku rumah untukmu, pijakkanlah kakimu ditempat yang sama denganku. Aku khawatir semesta menghukumku karena terlalu setia menunggumu.
Tertanda. Jingga.

2

What Friends Are For....


"Aku suka curhat sama kamu soalnya kalau aku salah ya dibilangin salah, karena aku nggak sedang mencari pembenaran. Aku butuh komentar apa adanya" tersebutlah Lucky Mardiyanto, sahabatku mengatakan itu. *blushing*


Kami bertiga; aku, Lucky, dan Uut memang sudah dekat sejak SMA kelas 1. Meskipun hanya 1 tahun berada di kelas yang sama, seperti sudah diskenariokan Tuhan, kami masih dekat sampai sekarang. Kalau dengan Lucky, karena kebetulan dulu waktu kuliah s1 sama-sama di Malang, jadi ya kalau ada sesuatu dan pengen cerita dia tinggal ke kosan. Kalau uut, kami sudah terlatih menjalani curhat via telepon, sms, dan semacamnya sejak dulu. Uut kuliah di Surabaya saat itu. Meskipun pernah beberapa kali dia main ke Malang, salah satunya saat ulangtahunku. *blushing*

Sekarang, saat waktu mengatakan bahwa kami sudah sekitar 10 tahun mengenal, nyatanya tidak banyak yang berubah. Uut di Jakarta, Aku di Jogja, dan Lucky di Bojonegoro. Kami masih ada waktu untuk satu sama lain. Dipikir-pikir, hampir tiap hari aku bbman sama uut, atau mungkin sekedar mention2an 'gak juelasss' di twitter :p
Dan Lucky, meski tidak tiap hari berkomunikasi, dia cukup sering telpon kalau ada apa-apa. Seperti semalam, kami asyik bercerita dan mendengarkan sampai larut malam. 

Pernah dengar kalimat : "di-IYA-in aja biar cepet?" emm.. rasanya hal itu hanya berlaku saat kita ingin segera mengakhiri pembicaraan dengan orang lain yang mungkin jika dijabarkan bisa membutuhkan waktu lebih lama, dan (mungkin) kita enggan dengan durasi itu bersama dia atau membahas hal tertentu bersamanya.  Begitu, ya?
"bla bla bla bla.."
"Iya.."
sudah, selesai kan? Meaningless, di-IYA-in aja biar cepet semestinya tidak akan dilakukan sesama teman, atau paling tidak orang yang kita hargai. Itu bagian dari komunikasi efektif, berargumen lebih baik jika dibandingkan di-iya-iya-in aja tapi konflik tidak selesai.
Sehingga, aku kurang sependapat kalau ada yang bilang, "saat orang sedang bercerita (curhat), dia hanya butuh pembenaran, butuh di-iya-iya-in aja"
Untunglah Lucky dan Uut pun tidak berpikiran begitu.
Kalau membahas sesuatu sampai jelas lebih baik, kenapa harus gak dibahas? :)

Semalam Lucky mengintrupsi perbincanganku dengan Uut yang sedang seru. Uut jago gambar, kalau galau aku sarankan dia gambar, istilahnya galau produktif gitu lah ya. Hihihi..
Aku nggak bisa gambar sebagus uut, aku bisanya nulis. Jadilah aku nulis cerita baru, sudah 87 halaman sekarang, lumayan sih... tapi belum ada progress lagi. Bhahahahaahaaa
Ini beberapa dari hasil 'galau produktif' ala Uut

Ini Uut 'versi kurus sih' #Ops


Ehem #UutRaPopo #AkuRaPopo


Ini katanya aku. Ndelosor berdoa minta jodoh, 1 aja ^^


Ini aku lagi. Minta Jodoh tapi cerewet. Bhahahahaha


Ini aku dan Senja, tokoh fiktif di cerita baruku ^^ ~ tapi dia nggak kayak tuyul begitu sih -_-"





 Demikian ceritaku bersama Uut dan Lucky. Oh iya, satu lagi kesamaan kami adalah kami bertiga (katanya) sama-sama terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Uhuk! Toss! \^^/



Kita, dan Mungkin Hal-hal yang Belum Selesai


Apa kabar rindu bawah tanah? sampai kapan bertahan dalam gelap? Menolak muncul dalam rangkaian penggalian, memilih terkurung dalam ruang hampa udara, sesak sekaligus penuh cacing pemangsa.

Aku hanyalah manusia tanpa nama. Memilih hanyut dalam kuasa bahasa, sambil terus mencari jawaban perihal: "aku siapa?"

Jika cinta bisa memanusiakan manusia, bisakah ia mengubah Senja menjadi manusia? Senja yang terlanjur memilih pergi. Ada cita-cita yang harus ia jalani dengan (mungkin) tanpa aku bisa dibawa serta.
Lalu, apa kabar kita?
Kita, dan mungkin hal-hal yang belum selesai.

Dari Jingga, untuk Senja yang sedang hanyut dalam dunianya.


0

Menafsir Permukaan?



sendu bukan berarti tidak bahagia
senyum juga bukan berarti bahagia

dan kita hanya bisa menebak
melempar dugaan dari tempat kita memandang

hati dan rasa memang tak dangkal
tak mudah diterka
apalagi hanya dari permukaan
(Menafsir Permukaan, Astri Kusuma)

 Aku lupa dimana tepatnya, seingatku aku pernah membaca ada seorang penyair yang meski senang menciptakan syair dan sajak untuk orang lain, namun ternyata enggan menciptakan syair yang pada akhirnya ia berikan untuk kekasihnya. Kenapa? sederhana saja, ia tidak mau menyampaikan perasaannya dengan 'kata-kata tidak biasa'. Menafsirkan kata-kata itu berbahaya. Hmmmm, iya ya. 
Kata-kata ternyata benar bisa mendekatkan yang jauh, kemudian semakin menjauhkan yang sudah jauh. 
Jangan terlalu berbelit-belit, katakan yang ingin disampaikan. Meski pada akhirnya ada neuron tertentu yang tetap akan memilih jalan menafsirkan lain kata-kata itu karena ketidaksiapan mendengarkan yang sebenernya. #halah #ngelindur

Menafsirkan permukaan, bisa jadi hanya melihat sebuah kedangkalan. Kemudian? entahlah.

 Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi. Ketika patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku diam dan tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur yang menggigilkan surga di langit tertinggi
(Jalaluddin Rumi)


Apapun juga yang mereka katakan atau pikirkan, aku tetap ada di dalam Kau, karena aku adalah Kau. Tak seorang pun dapat memahami hal ini, sampai ia mampu melampaui pikirannya.
 (Jalaluddin Rumi)


Jika kau dapat bertemu dengan Jatidirimu meski hanya sekali, maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu. Wajah dari Yang Maha Tersembunyi, yang ada di luar alam semesta ini, akan nampak pada cermin persepsimu.
 (Jalaluddin Rumi)


 Awan-awan berada dalam keheningan meski penuh dengan berjuta kilat. Cinta akan memberi kelahiran baru bagi para filsuf berkepala batu. Jiwaku adalah ombak di dalam samudera kemuliaan-Mu. Dan di dalam keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudera kemuliaan-Mu.
(Jalaluddin Rumi)


2

ARYASATYA

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali and Get discovered!

***




Sepertinya aku kesiangan. Berkali-kali sudah aku membungkukkan badan juga melambaikan tangan dengan senyum lebar tanda sapaan pada rekan kerja yang sudah memulai aktivitas hari ini. Tak biasanya aku begini. Benar saja, dampak dari campur aduk perasaan penasaran juga tegang memicu jantungku liar berdebar hingga membuat kedua mataku susah terpejam semalam.
            “Lho, Dis. Katanya ijin ke pameran di The Bay?”
            “Nanti jam10an aja kak, ada barang yang mau diambil dulu di kantor.”
           “Kameramu sudah bener belum? Bawa kamera kantor aja kalau belum bener. Itu di mejanya Seto kalau mau dibawa..”
           “Asiiikkkk! Terimakasiiiihhh kak Mey cantiiikkkkkkk…” Aku memeluk manja tubuh kak Mey yang sedang hamil besar. Kak Mey memang salah satu rekan yang paling menyambut hangat kedatanganku  sejak 4 bulan lalu.  Demi menyelesaikan tesis, aku magang di kantor BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) di Denpasar Bali. Aku tertarik meneliti mengenai local wisdom masyarakat asli Bali dengan konservasi sumber daya alamnya.
Info mengenai pameran lukisan ini pun aku dapatkan dari Kak Mey. Aku dikirimkan sebagai delegasi kantor untuk menulis beberapa artikel mengenai acara yang diadakan di The Bay tersebut. Dan, tentu bukan karena semata-mata karena menghadiri pameran ini aku tidak bisa tidur dan was-was sejak beberapa hari lalu.

***

 
Aku sudah sampai di sebuah sudut The Bay, tepat didepan gerbang de Opera, lokasi pameran lukisan hari ini.  Setelah melakukan repetisi merapikan rambut dan baju, aku pun melangkah pasti. De Opera bukan tempat asing buatku. Aku sudah beberapa kali kesini; entah sendirian, bersama teman, atau.. pacar. Di dalam sebuah ruang yang sering dijadikan tempat pertunjukan regular de opera ini rupanya sudah ramai. Postur tubuhku yang mungil, ditambah hari ini aku hanya mengenakan flat shoes, membuatku kesusahan mencari sesosok pria yang sudah kujanjikan akan kutemui disini. Aku berdoa dalam hati, kuharap ia tidak kesulitan mengenaliku dengan penampilan yang banyak berubah sejak terakhir kali kami bertemu 3 tahun lalu. 
            “DISTAAA??”
            Aku menoleh kearah kanan. Oh Tuhan! Itu Aryasatya. Laki-laki berwajah malaikat yang pernah kumiliki. Ia tidak lupa. Ia berhasil mengenaliku dengan penampilan seperti ini.
            “Hei…. Apa kabar kamu?” kedua tangan kami kembali bertemu. Di tengah keramaian acara pameran, senyum kami seolah mengheningkannya meski sesaat.
            “Apa ini? Rambut pendek sebahu? Pipi merah pakai blush-on? Rok pendek? HAHAHA!”
           “ARYAAAAAA!” aku protes tidak terima. Bagaimana mungkin pria ini mencubit-cubit gemas pipiku di keramaian seperti ini. Heis!
                “Cuma sepatunya yang belum berubah. Masih flat shoes seperti dulu.”
            “Eitss, jangan salah. Ini aku pakek flat shoes gara-gara habis terkilir beberapa minggu lalu. Belum berani pakek heels lagi. Arya berapa hari di bali?”
            “Besok siang sudah balik. Aku kesini kan cuma karena undangan pameran ini. Oh ya, Sudah lihat lukisanku, dis?”
            Aku menggeleng. Tidak bisa kusembunyikan, aku sedikit kecewa mendengar jawaban Arya yang hanya berkunjung sebentar di Bali.
              “Hei…. Kok cemberut begitu? Ayo aku tunjukkan sesuatu.”
            Arya meraih tanganku. Kami kembali bergandengan setelah sekian lama terpisah jarak juga status yang tak lagi sama. Cahaya lampu keemasan de Opera menghangatkan kembali pertemuan kami. Kakiku patuh pada arahan kemana Arya melangkah. Seperti dulu.
            “Nah, ini lukisanku. Kata panitia ada 500 lebih lukisan yang mendaftar. Kamu patut bangga Dis, lukisan ini masuk dalam 50 besar terbaik lho..”
            Hatiku seketika meracau. Bukan hanya karena caption yang disematkan pada lukisan ini “Maret 2007, Gadis Bali Kesayanganku”. Tapi, dalam lukisan karya Aryasatya ini adalah memang aku. Aku yang saat itu benar menjadi kesayangannya, satu-satunya.
             “Kamu masih punya foto asli ini? Belum di delete?”
            “HAHAHA. Lha kenapa harus di delete sih? Aku bukan anak SMP labil yang setelah putus dengan pacarnya lalu menghapus semua foto-fotonya, Dista. Hih!”
            Arya kembali mencubit pipiku. Kali ini aku tidak berontak. Aku membiarkannya, dan masih terus memperhatikan tingkahnya. Arya masih seperti malaikat, belum berubah.
            “Coba lihat, kamu cantik sekali saat itu. Rambutmu masih panjang, tidak pendek seperti sekarang. Aku akui, sekarang kamu lebih cantik, tapi Dista gadis Baliku yang dekil tanpa make-up dulu jauh lebih menawan.”
          Aku diam mendengar perkataan Arya. Sudah lama sekali rasanya. Entah bagaimana, setiap perkataan Arya membuatku seolah terhempas kembali ke masa lalu kami. Nostalgia dengan kenangan masa silam yang tidak akan pernah bisa mengubah keadaan.
            “Kamu sudah makan siang? Aku traktir Bebek bengil kesukaanmu?”
            “Super Yesssss, Miss Dista!!!”
        Kami beranjak dari tempat pameran. Tidak jauh dari sini, masih dalam satu kompleks The Bay, aku mengajak Arya nostalgia dengan makanan kesukaannya. Setelah lulus sarjana, Arya memang kembali ke Ibukota. Persis setelah itu, ia tak lagi ke Bali. Entah karena kesibukannya di Jakarta, atau mungkin karena enggan bertemu aku, atau mungkin lagi ia ingin mengobati luka hatinya karenaku.
            “Kalau kemarin aku tidak tanya duluan, kamu pasti nggak ngasih tau aku kan mau ke Bali?”
            “Emmm…. Menurut kamu?”
            “Ya, itu. Begitu. Iya?”
            “Hehehe, entahlah. Yang penting kan kamu sudah tanya. Dan, kita bertemu lagi.”
            “Jadi bener kan.”
            “Hei… hei.. hei.. ngambek?”
            Aku diam dan sok sibuk membolak-balik menu di Restoran Bebek Bengil The Bay. Aku mengenal Arya dengan baik, 5 tahun menjadi kekasihnya bukanlah waktu singkat. Pasti sekarang ia sedang memutar otak untuk mengembalikan moodku yang sedang jelek. Aku cekikikan senang dalam hati. Hihihi..
            “Yasudah kalau ngambek, yang penting aku tetep ditemenin dan ditraktir makan Bebek bengil cukup deh…”
            “Hih! ARYAA!!!”
            “Kamu pasti ngira aku bakalan maksa-maksa kamu biar nggak ngambek kan? Enak aja, kan udah bukan pacar aku. Weeekk.. HAHAHAHA!”
            Aku pun ikut tertawa. Benar apa yang Arya katakan. Aku hampir lupa.
            “Aku kaget kemarin waktu baca pesan kamu. Sudah lama sekali sih ya kita nggak ngobrol. Jadi cukup deg-degan juga tiba-tiba muncul nama kamu di handphone.”
            “Iya, kebetulan aku baca obrolanmu dan Damar di twitter. Sayang sekali ya, teman-teman asli Bali sudah banyak yang kerja diluar. Sepertinya memang cuma aku yang masih disini.”
            “Lho, ya nggak masalah donk, Dis. Jadi, kapan-kapan kalau aku liburan kesini masih ada kamu yang siap menyambut. Seperti sekarang.”
         “Yeeeeeiii, enak saja. Ini yang terakhir yaa. Lain kali tidak lagi. Ogah menyambutmu di Bali bersama istrimu nanti. Weeekkk.”
            “HAHAHAHA. Ya nggak masalah donk. Nanti aku kenalkan, kan kalian sama-sama mantan pacarku. Cuma bedanya, dia akhirnya kunikahi, kamu tidak.”
            Kami tertawa lepas. Siapa yang bisa menyangka, dalam beberapa jam kami sudah mampu kembali menertawakan hal-hal tabu yang sebelumnya tidak pernah kami ungkit. Ya, bulan depan Arya menikah. Aku tahu itu dari teman-teman kuliah kami dulu. Sejak kami putus, hanya selang beberapa bulan sebelum kelulusan sekaligus kepulangan Arya kembali ke Ibukota, tidak ada satupun diantara kami yang memulai komunikasi. Hingga hari ini, kami bertemu lagi di The Bay.
            “Lalu, kamu bagaimana, Dis? Sudah ada calon?”
            “Emmm… mungkin akhir tahun ini baru tunangan. Tahun depan nyusul kamu deh, menikah.”
            “Waahhh, selamaaattttt. Calonnya orang mana? Bali juga?”
            “Ih, Arya kepo ih…”
         “Lho, harus itu. Aku mau memastikan kamu akhirnya tidak menikah dengan laki-laki yang dulu lebih kamu pilih sampai meninggalkan aku. No way, bukan sama dia kan???”
            “HAHAHAHA. Of course not, Aryasatya. Dulu kami cuma pacaran beberapa bulan. Dia kembali ke negaranya, lalu kami putus begitu saja.”
            “YES! Lalu? Kamu menyesal nggak? Keinget aku nggak setelah itu? Cieeeeh cieeeh..”
            “Heiss.. Percaya diri sekali kamu. Yee…”
            Kami kembali tertawa lepas. Lucu sekali. Meski obrolan ini mengalir begitu saja, seolah tidak lebih dari candaan ringan, namun tetap membawa buih kejujuran yang tersimpan dalam ke permukaan. Kami menceritakan pasangan masing-masing, dengan sesekali iseng membandingkan dengan perjalanan romansa kami saat masih berpacaran. Aku menyadari, bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan untuk kami. Melepaskan beban hati masing-masing, kemudian siap dengan jalan cerita yang Tuhan siapkan dengan sebaik-baiknya.
            “Sudah malam, terimakasih untuk menemani di The Bay seharian ini ya, Dis.”
            “My pleasure, Arya. Ini hadiah kecil untuk pernikahanmu bulan depan.”
            “Hmm.. thank you.. semoga cepat selesai tesisnya ya..”
            “Yup, Thanks..”
       Tangan kami kembali bertemu. Dengan hati yang ringan dan tenang, kami melepaskan genggaman tangan itu perlahan. Mengambil arah berlawanan dalam melangkah, kemudian mengulang kembali ceria hari ini dalam ingatan masing-masing hingga akhirnya tertidur dan bertemu dengan kisah yang sesungguhnya. Kisah sekarang yang berarti untuk masa depan, bukan lagi masa lalu.

***

Catatan hari ini:
Bali, 07 April 2014.
Oh Tuhan, terimakasih sekali. Luka yang kutorehkan untuk Aryasatya kuharap memang benar telah kering seperti tercermin dalam pertemuan menyenangkan kami hari ini. Terimakasih untuk kesempatan ini Tuhan. Terimakasih Tuhan, Terimakasih The Bay. Untuk setiap luka yang pernah ada dalam hati Aryasatya, semoga sudah binasa dengan bahagia di sorot matanya. Selamat berbahagia, Aryasatya ^^

 
Back to Top