5

Saya Terduga Teroris


Sore itu, aku kembali dipertemukan dengan Bapak Ebiet G Ade, sebut saja begitu. Si Bapak mendapat giliran menjadi sopir travel perjalanan jogja – bojonegoro yang kunaiki. Perjalanan sore itu adalah pertemuan keduaku bersama si Bapak. Ada yang menarik sore itu, jika biasanya setelah masuk mobil aku langsung menyalakan Mp4 dan berkonsentrasi dengan lagu-lagu favoritku, tidak pada saat itu. selain karena si Bapak hobi sekali menyalakan musik lagu-lagu Ebiet G Ade dengan volume keras, aku tertarik menguping percakapan antara si Bapak dengan seorang penumpang laki-laki disampingnya.

“Saya korban salah tangkap. Saya pernah jadi terduga teroris”

Wah! Posisi dudukku yang tepat ada dikursi belakang si Bapak spontan memajukan posisi  agar lebih bisa sukses menguping.  Aku penasaran, penumpang disebelah si Bapak itu siapa? Kenapa mendadak si Bapak bercerita hal ini tak kurang dari 10 menit setelah si penumpang naik.

“Muka saya langsung ditutup, saya gak diijinkan bicara.”
“Saya sempat dipenjara belasan hari”
“Setelah penangkapan, saya diberitahu bahwa saya masuk koran bahkan channel SCTV dan lain-lain”
“Setelah saya terbukti tidak terlibat, tidak ada konfirmasi atau apalah untuk membersihkan nama saya lagi, tidak ada Koran atau televisi yang memuat berita itu. saya kecewa”
“Saya ditangkap saat sedang mengantarkan penumpang.”

(Nah, si bapak beberapa kali menyebut “Semarang” , tapi berhubung suara musik kenceng banget, di bagian ini aku kurang denger deh jelasnya gimana.  Entah si Bapak ditangkap di Semarang atau bagaimana)

“Saya sempat ingin bunuh diri, untung saya punya istri berhati baik. Istri saya tidak cantik, tapi berhati baik.” (kalimat ini mengharukan,menurutku)
“Keluarga saya banyak yang menyarankan untuk memperkarakan kasus saya. Bahkan ada beberapa pengacara yang mendekati saya bersedia membela saya untuk memperkarakan polisi-polisi itu, tapi tidak saya lakukan”
“Saya ikhlas, menerima. Tapi disini masih sakit kalau ingat kejadian itu” (si Bapak menunjuk bagian dada)
“Pernah ada penumpang, mahasiswa UGM yang duduk disebelah saya memperhatikan saya terus-menerus. Saya tanya kenapa kok ngeliatin saya? Dia bilang pernah melihat saya di koran. Sering banyak orang yang mengaku pernah melihat saya di koran atau televisi, sayangnya mereka mengenal saya sebagai terduga teroris. “
“Saya kecewa, kenapa saat penangkapan dan belum terbukti benar, pemberitaan kenceng sekali. Tapi saat saya sudah terbukti bersih, malah tidak ada pemberitaan.”
“Bahkan saat saya melamar pekerjaan di travel ini, saya diminta menyertakan surat dari kepolisian, SKCK. Padahal calon sopir yang lain tidak diminta begitu.”
 
 (dari percakapan ini aku simpulkan saat kejadian salah tangkap, si Bapak belum menjadi sopir di travel ini, mungkin travel lain)

“Bisa saja saya mengajak keluarga saya pindah, tapi saya tidak mau semakin dianggap bersalah oleh masyarakat sekitar saya. Saya ingin berjuang membuktikan, menunjukkan pada mereka saya ini bersih, tidak bersalah” 
 
(aku kurang tahu, si bapak Ebiet G Ade ini asalnya darimana)

“Saat ditangkap, saya kepikiran keluarga saya. Istri dan anak saya. Saya takut mereka diapa-apakan”
“Malam itu, saya melewati lokasi saat ada dua polisi yang ditembak, mobil saya tiba-tiba dihentikan. Mereka mengambil pemantik disebelah stir saya sebagai barang bukti.” 
 
(nah ini, apa si bapak ditangkap waktu kejadian penembakan anggota polisi di jawa tengah itu, aku gak bisa memastikan)

Saya percaya pembalasan dari Allah itu pasti ada. Saya percaya karma.”
“Beberapa waktu lalu, saya mendengar kepala polisi yang menangani kasus saya stress.”

(si Bapak juga sempat menyebutkan penangkapan dr.Azhari di Malang, aku jadi makin pusing si bapak diangkapnya pas kejadian yang mana)

                “Masa’ ya hanya karena saya berjenggot, lalu mengenakan peci putih, dan pernah di arab, langsung ditangkap seenaknya”
                “Saat sedang bekerja, saya kan sering harus turun di tempat-tempat tertentu untuk mengambil titipan barang. Sering tiap saya ingin memakai peci saya, saya mikir, ah gak usah dipakek. Nanti dituduh teroris lagi. Saya trauma.”
                “Saat ditangkap, saya gak kepikiran itu untuk tuduhan dugaan teroris. Saya pikir ini gara-gara anak lelaki saya yang emang nakal, suka balapan. Wah, ini pasti anak saya bikin ulah sama motornya. Saya baru tahu setelah penutup wajah saya dibuka dan ada penyidik didepan saya.”
 
kurang lebih seperti itu cerita si Bapak Ebiet G Ade. Aku tahu nama si Bapak, cuma tidak enak ingin menyebut nama aslinya. Setelah googling, rupanya banyak sekali korban-korban salah tangkap seperti Bapak ini. Untuk yang suka bepergian dari Jogja-Bojonegoro atau sebaliknya dengan menggunakan travel, kemungkinan besar kalian bisa dengan mudah bertemu dan mengenali Bapak ini. Jujur saja, saat pertama kali aku melihat Bapak ini, akupun merasa pernah melihatnya sebelumnya. Aku jadi ikut merasa berdosa karena menjadi bagian orang-orang yang mengingat Bapak ini sebagai terduga teroris. Namun, tidak akan lagi :)

5 komentar:

  1. Wah..seru!!
    Jadi ada ceritanya ya perjalanan bojonegoro-jogja..

    BalasHapus
  2. lhooh! Mas dicky :D
    ho'ooh masdok..

    BalasHapus
  3. Cerita yang menarik, si admin blog pintar juga menguping pembicaraan hahaaaaaa

    BalasHapus
  4. Itulah gunanya kuping...,ya untuk menguping....he

    BalasHapus
  5. hihihi.. aslinya ndak 'menguping' sih, cuma 'kedengeran' gituu :angel

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar....
Mari saling menginspirasi =)

Back to Top