Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
0

#FF2in1 Cepatlah Pulang


11 Maret 2064

Selamat Pagi, sayaang... Ini hari peringatan ulang tahun pernikahan kita yang ke-50. Ayo pulaang, aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Seperti biasa, aku ke pasar dulu. Dua anak kita akhir pekan ini tidak bisa pulang karena kesibukan. Mereka sepertinya juga sedang disibukkan menjadi orangtua. Aku sebenarnya sangat rindu cucu-cucu kita, Bagas dan Brilly. Aku yakin pipi mereka bertambah besar, sepertimu saat muda. Hehehe..
Aku sebenarnya kesepian, menunggumu yang tidak kembali pulang. Tua sendirian membuatku tidak berselera makan. Aku sekarang sudah keriput, jelek, dan hitam. Kamu masih cinta aku kan, sayang? 

"Mama, sedang apa? nulis surat lagi? Ayo makan, Ma."

Sayang.. aku tidak tahu siapa laki-laki yang selalu menyuruhku makan ini. Aku tidak suka dia tinggal di rumah kita. Aku takut karena itu kamu tidak buru-buru pulang selepas kerja. Benarkah begitu?

"Nenek, Makan sama Brilly, yuk nek.. Neneekkk! Neneekk!"

Sayang.. aku mulai tidak nyaman disini. Bisakah kamu menjemputku? Anak kecil yang memanggilku nenek ini berani-beraninya bilang bahwa kamu sudah meninggal. Selain itu, dia suka menarik-narik tanganku yang masih sibuk menulis surat untukmu. Tidak sopan sekali dia. Sangat berbeda dengan Bagas dan Brilly, cucu kita. 

 Sayang, aku heran, entah kenapa belakangan ini aku hanya mampu mengingat masa-masa saat kita pacaran. Kamu tahu? aku menemukan Buku Harian kita berdua. Aku mengingatnya jelas. Cuma kamu yang mampu menemukanku yang mencoba pergi dalam pelarian. Aku sedang mendengarkan lagu Beyonce - Love on Top. Lagu kenangan kita, kamu masih ingat?
0

#FF2in1 Sakral


Pukul 11.00 siang, aku sudah duduk di salah satu bangku tunggu di Museum Ullen Sentalu Yogyakarta. Sudah beberapa kali aku mengintip jam, klien yang kutunggu tak jua datang. Aku berusaha membunuh kebosanan. Aku berjalan menyusuri jalanan berbatu dengan daun-daun rimbun yang menutupi beberapa permukaannya. Aku penasaran, apa yang sedang keduanya perbincangkan. Batu dan dedaunan, yang terlihat mesra tanpa berkata-kata.

Aku kembali gelisah. Sudah hampir 2 jam aku menunggu. Aku benci saat harus melewati waktu sakral seperti ini masih dengan situasi ditengah menanti. Ya, sekarang sudah pukul 11:11. Deretan 4 angka namun bukan aritmatika yang kusebut sebagai waktu tak biasa, ialah Sakral namanya.

Hampir tiap hari, entah kenapa Tuhan selalu mempertontonkan deretan 4 angka itu untuk bisa mengusik perhatianku. Membuatku kembali mengingat lagi dan lagi, seseorang bernama Sakral. Agak aneh memang, aku sendiri masih tidak percaya ada manusia di muka bumi ini dengan nama itu. Awalnya aku pikir, mungkin dia alien. Ya, selain karena keanehannya yang suka datang dan pergi tanpa permisi, aku masih terheran-heran akan satu hal. Bagaimana mungkin ia selalu muncul di pukul 11:11. Aneh? Iya, aku tahu. Aku yang seorang tourguide museum, sangat menyadari keanehan ini. Selama tidak kurang 1 bulan, lelaki ini seringkali muncul di rombongan klien yang sedang kuajak berkeliling. Aku mulai mengamati kemunculannya yang ternyata mempunyai pola, itu dia, 4 angka sakral.

Ini sudah hari ke-11 ia tidak datang. Aku mulai rindu aroma khas dari tubuhnya. Aku mulai kehilangan sosok yang selama ini menanyakan kerisauan yang sudah kupendam dalam senyum di wajahku. Aku bahkan pernah menunggu pukul 11:11 tengah malam. Api didalam museum bahkan sudah hampir dipadamkan. Namun tidak dengan api cinta yang aku tak tahu sejak kapan sudah berkobar dan belum juga padam.

"Hai..."
aku menoleh ke arah sapaan yang mengagetkan itu.
"Sakral???"
aku mengintip jam tangan. Bukan pukul 11:11. Mungkinkah dia akan lebih lama tinggal?

0

#FF2in1 [FLASH FICTION] Hujan tahu, kamu tidak!

Sore hari, Koperasi Mahasiswa UGM, 22 Januari 2014
"Untung ada kamu Nad, duh! gemessss!"
"Heehhh! sakit lho." aku mengusap-usap pipiku yang baru saja dicubit Rendra.
"Kalau ngggak ada kamu, mana mungkin aku berani ngelamar Dinda coba'! Gilak!"
Aku mengulum senyum, "Thats friend for, kan ndra?....."
"Jadi, sekarang tinggal kamu yang harus melangkah. Ya kan? Tiga bulan lagi pernikahanku sama Dinda. Jangan lama-lama jomblo lho, Nad. Cantikmu mubadzir!"
Aku cekikikan mendengarkan komentar Rendra, "Iyaa bos, Rendra. Siap!!! aku segera menyusul!"

Malam hari, Rumah Nadia
Dear Diary, Rendra sudah resmi melamar Dinda. Yasudah lah yaa... Kami terlalu dekat, sudah sejak SD jadi temen. Akan ada hal yang aneh kalau aku bilang 'i have crush on you, Ndra.."

Malam hari, Rumah Rendra
"Akhirnyaaa, adekku berani ngemalar cewek juga. Selamat ya, ndra!"
Rendra tersenyum, "apa sih kak... udah capek diomelin Mama. Disuruh buru-buru nikah nyusul kamu."
"Jadi? sudah fix melepas Nadia? your bestfriend and your hidden love? Hmmm???"
Rendra terdiam.
"Rendra, sudah yakin kan?"
"Iya kak. Sudah. Gak papa, aku dan Nadia terlalu dekat. Aku takut cuma perasaanku aja yang seperti ini. Nanti malah hubunganku sama Nadia renggang. Aku terlalu khawatir."
"Okee.. korelasikan rasio dan perasaanmu baik-baik. Dinda juga cewek baik kok."

Rendra menatap hujan dari jendela kamarnya. Ia berbisik dalam hati, "hujan tahu, kamu tidak!"
4

#FF2in1 [FLASH FICTION] Aku, Kamu, dan kertas lusuh

Sudah 1 jam. Tuk! Tuk! Tuk! aku sengaja membuat sendok dengan piring didepanku beraduh. Terlalu sunyi disini. Lagipula memang sudah pukul 11 malam lewat. 30 menit lagi kedai roti bakar ini pun akan segera tutup.
Aku tidak peduli. Persisten? Ya, itu aku. Pegawai kedai ini kupastikan tak akan lagi menegurku malam ini. Mereka sudah hapal dan paham. Aku akan pulang 5 menit sebelum kursi-kursi disini dipadukan lagi jadi satu. Mereka tahu, aku sedang menunggu.
Aku dan Rio memang suka disini. Aku menulis, dan Rio tak bosan mengaduk kopi didepannya. Sesekali ia memainkan poni dirambutku, "Hei... tulisanmu membuatku cemburu..", protes Rio dengan lucu.
Empat tahun bukan waktu singkat. Kami bersama sebagai teman, juga sepasang kekasih. Menguatkan namun tidak mengekang, kami saling memberi jeda untuk setiap rasa yang kami bina.
Malam ini aku masih menunggu Rio datang. Siapa tahu ia sekedar mampir bersama istrinya ke kedai favoritnya ini. Kedai yang menemaninya menghabiskan cerita bersama mantan kekasihnya, aku.
Pukul 11 lebih 25 menit. Aku beranjak dari kursi rotan yang mulai tak nyaman ini. Aku masih menggenggam erat sebuah kertas lusuh. Kertas lusuh sama yang kugenggam saat menolak lamaran Rio.

"Tak kan bisa ku lupakan
Hingga akhir nanti
Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban
Tak mengapa namun kau harus bahagia
Tak mengapa namun kau harus bahagia" 

Lagu Sammy simorangkir menutup malam di kedai hari ini. Aku melambaikan tangan pada Om Soni, kasir Kedai. Setidaknya, ia yang telah menenangkan perasaanku sejak hari itu. Hari aku divonis kanker rahim dan kehilangan Rio. Selamanya.
Back to Top